Hekataios
pencatatan geografi dan perbedaan budaya antar bangsa kuno
Pernahkah kita merasa bahwa cara hidup kita adalah yang paling benar?
Coba ingat-ingat lagi. Saat kita bepergian ke luar kota atau ke luar negeri, lalu melihat orang makan dengan cara yang aneh. Atau saat kita melihat tradisi yang menurut kita sama sekali tidak masuk akal. Reaksi pertama otak kita biasanya adalah menghakimi. Kita merasa aneh, mungkin sedikit meremehkan, dan menganggap standar kitalah yang paling normal.
Dalam psikologi, ini disebut etnosentrisme. Ini adalah bias kognitif bawaan pabrik. Otak kita dirancang untuk menyukai kesamaan demi rasa aman. Sesuatu yang asing sering kali diterjemahkan oleh amigdala kita sebagai ancaman.
Sekarang, bayangkan hidup di era ketika belum ada internet, belum ada peta digital, dan batas dunia hanyalah sejauh kaki bisa melangkah. Ribuan tahun lalu, rasa curiga terhadap bangsa lain bukan sekadar bias, tapi cara bertahan hidup.
Namun, di tengah dunia kuno yang penuh prasangka dan mitos monster di ujung cakrawala, ada satu orang yang memutuskan untuk melawan arus. Ia berkemas, melakukan perjalanan jauh, dan akhirnya menyadari satu fakta yang menggetarkan ego bangsanya. Orang ini menemukan bahwa dunia jauh lebih luas, lebih aneh, dan lebih masuk akal daripada dongeng sebelum tidur yang ia dengar sejak kecil.
Mari kita putar waktu ke abad ke-6 Sebelum Masehi. Kita mendarat di Miletos, sebuah kota pelabuhan super sibuk di pesisir pesisir Asia Kecil (sekarang Turki).
Jika Athena adalah pusat filsafat, maka Miletos pada masa itu adalah Silicon Valley-nya dunia kuno. Kota ini adalah titik temu para pedagang dari berbagai benua. Ada rempah dari timur, kain dari selatan, dan ide-ide liar yang bertabrakan setiap hari di pasar. Di lingkungan yang sangat dinamis inilah lahir seorang pria bernama Hekataios.
Hekataios ini bukan sekadar orang kaya yang kurang kerjaan. Ia adalah seorang pengamat yang obsesif.
Pada masa itu, orang Yunani kuno punya tingkat kepercayaan diri yang luar biasa tinggi. Mereka merasa menjadi pusat semesta. Mereka menyebut siapa saja yang tidak berbahasa Yunani sebagai barbaros—asal usul kata "barbar"—karena bahasa asing di telinga mereka cuma terdengar seperti gumaman "bar-bar-bar". Mereka juga percaya bahwa fenomena alam, batas wilayah, dan sejarah manusia sepenuhnya diatur oleh suasana hati dewa-dewi di Gunung Olimpus.
Tapi Hekataios melihat kapal-kapal asing yang bersandar di Miletos. Ia melihat wajah-wajah berbeda, mendengar bahasa yang aneh, dan melihat barang-barang yang tidak ada di buku mitologi bangsanya. Rasa penasarannya mulai membesar. Jika orang-orang asing ini nyata, dan peradaban mereka nyata, bagaimana bentuk dunia ini sebenarnya?
Untuk menjawab rasa gatal di otaknya, Hekataios tidak cuma duduk berteori. Ia melakukan apa yang sekarang kita sebut sebagai observasi lapangan. Ia bepergian melintasi Laut Tengah, menyusuri pesisir Asia, hingga akhirnya tiba di Mesir.
Nah, di Mesir inilah terjadi sebuah momen psikologis yang sangat epik. Sebuah benturan realitas (cognitive dissonance) yang mengubah cara pandangnya selamanya.
Orang Yunani kuno sangat bangga dengan silsilah mereka. Hekataios sendiri, konon kabarnya, bisa merunut silsilah keluarganya mundur hingga generasi ke-16, yang mana leluhur ke-16 ini dipercaya sebagai seorang dewa. Ia sangat bangga akan hal itu. Saat di Mesir, ia bertemu dengan para pendeta di kuil Thebes dan memamerkan silsilah dewanya tersebut.
Alih-alih terkesan, para pendeta Mesir itu justru membawanya ke sebuah ruangan besar. Di sana terdapat deretan 345 patung kayu raksasa. Para pendeta itu menjelaskan bahwa setiap patung mewakili satu generasi imam besar yang turun-temurun, ayah ke anak, dan semuanya adalah manusia murni. Tidak ada dewa yang campur tangan di masa lalu mereka yang ribuan tahun itu.
Teman-teman bisa membayangkan isi kepala Hekataios saat itu?
Ego kebangsaannya runtuh seketika. Sejarah Mesir yang tertulis dan terukur itu jauh lebih tua, lebih panjang, dan lebih logis daripada mitos Yunani yang ia banggakan. Otaknya kini dihadapkan pada persimpangan yang brutal: haruskah ia tetap hidup dalam penyangkalan demi kebanggaan buta, atau menerima kenyataan baru yang tidak nyaman ini?
Hekataios memilih jalan yang mengubah sejarah sains dan pemikiran manusia. Ia pulang ke Miletos dan memutuskan untuk melakukan dua hal gila.
Pertama, ia membuat sebuah peta dunia (Ges Periodos). Namun ini bukan peta sembarangan. Sebelumnya, peta dunia dibuat berdasarkan puisi mitologi—pusatnya selalu di Yunani, dan ujungnya selalu dijaga monster. Hekataios membuang monsternya. Ia membagi peta secara sistematis berdasarkan data empiris yang ia kumpulkan, membaginya menjadi dua benua utama: Eropa dan Asia. Ini adalah pencatatan geografi pertama yang berbasis observasi, bukan halusinasi religius.
Kedua, ia menulis buku tentang perbedaan budaya bangsa-bangsa. Di bagian pembukaannya, ia menuliskan kalimat yang sangat revolusioner untuk zamannya. Kalimat ini adalah titik awal di mana sains dan pemikiran kritis lahir.
Ia menulis: "Saya menuliskan hal-hal ini sebagaimana yang saya anggap benar; karena cerita-cerita orang Yunani itu beraneka ragam dan menurut saya konyol."
Boom.
Hekataios adalah salah satu manusia pertama yang berani melakukan fact-checking terhadap kebudayaannya sendiri. Ia adalah pionir yang menyadari bahwa budaya itu relatif. Cara orang Persia berpakaian, cara orang Mesir beribadah, atau cara orang Skithia bertarung bukanlah sesuatu yang "salah" atau "barbar" hanya karena berbeda dari Yunani. Itu hanyalah adaptasi manusia yang berbeda di geografi yang berbeda.
Ia menggeser cara pandang manusia dari mythos (cerita mistis) menjadi logos (pemikiran rasional). Hekataios membuktikan bahwa untuk memahami dunia, kita tidak perlu menebak pikiran para dewa. Kita hanya perlu membuka mata, mencatat, dan berpikir objektif.
Kisah Hekataios dari Miletos ini bukan sekadar catatan usang dari ribuan tahun lalu. Ini adalah cermin yang sangat relevan untuk kita semua hari ini.
Di era modern, kita punya peta satelit di genggaman tangan. Kita bisa melihat jalanan di Tokyo atau sudut kota di Buenos Aires hanya dengan usapan jari. Tapi ironisnya, teknologi yang menghubungkan kita ini sering kali gagal menghapus bias di kepala kita. Kita masih sering mengotak-ngotakkan manusia. Kita masih sering merasa budaya kita, kelompok kita, atau keyakinan kitalah yang menjadi pusat alam semesta. Kita sering lupa bahwa di belahan dunia lain, orang-orang juga hidup dengan nilai mereka sendiri, dan mereka baik-baik saja.
Dari Hekataios, kita belajar tentang kerendahan hati intelektual. Bahwa kecerdasan sejati tidak datang dari keyakinan bahwa kita tahu segalanya, melainkan dari keberanian untuk mengakui bahwa cerita yang kita percaya mungkin saja keliru.
Pemahaman geografis dan budaya bukan cuma soal menghafal nama ibu kota atau baju adat. Ini adalah latihan empati tingkat tinggi. Ketika kita bersedia "bepergian" baik secara fisik maupun mental, ketika kita mau melihat dunia dari lensa bangsa lain, kita sebenarnya sedang menjinakkan ego kita sendiri. Dan pada akhirnya, teman-teman, menyadari betapa kecilnya kita di tengah dunia yang luas ini adalah satu-satunya cara agar pikiran kita bisa tumbuh menjadi besar.